LIPUTAN SUKSES BUDIDAYA PEPAYA BANGKA.TRIBUNNEWS.COM, DI KEBUN CALLINA NEGERI HIJAU CLUSTER LAMONGAN

 In Liputan

Calina Negeri Hijau

Petani Ini Awalnya Dianggap Gila, Kini Jadi Jutawan Berkat Pepaya Calina

BANGKAPOS.COM, LAMONGAN — Awalnya Abdul Qohar dianggap gila oleh warga Desa Candisari, Kecamatan Sambeng, Kabupaten LamonganJawa Timur, saat memulai berkebun Pepaya Calina tiga tahun silam.

Penyebabnya, lahan pertanian di ujung selatan Lamongan yang terkenal kering itu sudah turun temurun hanya ditanami padi, tembakau dan jagung.

“Namun waktu membuktikan, kini ada sumber pendapatan baru di luar padi, tembakau dan jagung, “ katanya mengawali cerita kepada Surya.co.id, Jumat (21/10/2016).

Menjamurnya  kebun Pepaya Calina yang sukses, membuat petani lain tertarik membudidayakannya.

Apalagi sejak para petani Candisari bermitra dengan distributor buah-buahan, Negeri Hijau, mereka tidak perlu lagi memikirkan pemasarannya.

“Dulu, saat awal membentuk Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera, kami hanya memiliki 32 anggota dari Desa Candisari saja. Kini anggota kami sudah mencapai 112 orang yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Sambeng, “ ujar Abdul Qohar yang juga Ketua Poktan Godong Ijo Sejahtera tersebut.

Setidaknya, kini petani memiliki pemasukan setiap minggu karena Pepaya Calina bisa dipanen dua kali dalam seminggu.

Bupati Fadeli tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya saat mengunjungi hamparan perkebunan Pepaya Calina, Kamis (20/10/2016) . Dia salut dengan keuletan petani Lamongan.

Kepada sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menyertai, dia memerintahkan mereka untuk memasukkan Perkebunan Pepaya Calina dalam Program Gemerlap.

Keuletan dan inovasi seperti ini yang harus terus didorong dan mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Saya minta ini dimasukkan dalam Program Gemerlap sehingga bisa menerima berbagai bantuan program pemberdayaan. Nanti bisa dibuatkan koperasi, diberikan pelatihan, atau diberikan unit pengolah pupuk organik,“katanya.

CEO Negeri Hijau, Imam Ma’arif mengatakan, dengan total kebun Pepaya Calina seluas 15 hektar di Kecamatan Sambeng, Lamongan sudah menjadi produsen terbesar ketiga di Jawa Timur.

Selain ke Lamongan, selama ini Pepaya Calina dari Sambeng dia pasarkan hingga ke Tuban, Gresik dan Jakarta.

Pepaya Calina itu menurut dia sangat cocok untuk lahan kering seperti di Sambeng.

Pepaya Calina sudah mulai dipanen saat usia 6 bulan 20 hari dan akan terus berbuah hingga berumur tiga tahun.

Karena Pepaya Calina dari Sambeng sudah memiliki merek dagang, dia juga membina pemilik kebun untuk menjaga kualitas buah agar sama, meski ditanam di tanah yang berbeda.

Ada perlakuan yang berbeda untuk setiap jenis tanah sehingga kualitas buah yang dipasarkan selalu seragam.

Dalam areal seluas 1 hektar, bisa ditanam hingga 1.520 batang Pepaya Calina. Dalam setiap hektar, menurut Imam Ma’arif, petani bisa mendapat omzet Rp 18 juta per bulan. Itu pun sudah dihitung dengan faktor kegagalan.

Jika faktor kegagalan panen bisa ditekan, beberapa petani bahkan bisa meraup Rp 20 juta per bulan dari setiap hektar kebun Pepaya Calina. (Surya)

 

Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text.