LIPUTAN SUKSES BUDIDAYA PEPAYA warga-desa-worlds.blogspot.com, DI KEBUN CALLINA NEGERI HIJAU CLUSTER LAMONGAN

 In Liputan
Calina Negeri Hijau

Laba Bersih Pak Abdul Qohar Tembus Rp. 30 Juta per Bulan berkat Pepaya Calina

Agresifitas hasil panen yang sangat menjanjikan, padahal pola penanamannya sangat sederhana dan mampu untuk difungsikan pada tiap lahan yang cenderung kering. Bahan pokok yang bernilai ekonomi tinggi, serta cukup bisa dikatakan primadona diantara jenis pepaya lainnya di pasaran, khususnya Supermarket atau Hipermarket.

Pepaya California atau Calina namanya, memiliki bentuk buah yang lebih lonjong, lebih kecil, dan berkulit tebal ini, berasal dari Amerika Tengah dan Caribia. Tekstur bentuknya pun cukup unik, karena saat matang cenderung berwarna kuning dengan rasa yang sangat manis. Selain itu, buah pepaya jenis Calina memiliki ciri batang yang dekat dengan tanah, alias pendek, sehingga memudahkan proses pengumpulan saat dipanen.

Ia dapat tumbuh sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pak Abdul Qohar. Menanam Pepaya California pada lahannya di Desa Candisari, Kecamatan Sambeng. Daerah yang terletak di sebelah ujung selatan dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, memang terkenal sebagai lahan yang cenderung kering dan tandus. Sudah turun temurun, para petani mayoritas menanami lahannya dengan jagung, tembakau, dan padi.

Bibitnya berasal dari Institut Pertanian Bogor.

Sejak bercocok tanam pepaya calina, penghasilan mereka pun berubah. Tiap luas lahan sebesar 1 hektar dapat ditanami oleh 1.000 hingga 1.500 pohon pepaya. Sewaktu tumbuh pertama memang masih setinggi 1 meter, namun sudah mampu menghasilkan buah.

Dalam ukuran setinggi 1,5 meter, 1 pohon bisa menghasilkan 1 s/d 4 buah dalam sekali petik. Pepaya Calina baru bisa dipanen jika sudah berusia 7 bulan dan akan terus berbuah hingga berumur 3 tahun kemudian. Terus terang dari bentuknya memang berbeda, serta rasanya juga berbeda. Pastinya, pepaya California memiliki ukuran lebih kecil daripada pepaya biasa.

Pak Abdul sejak 2013 membudidayakan pepaya jenis calina, yakni jenis pepaya dalam negeri yang dikembangkan oleh pusat penelitian dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Pepaya hasil pembuktian anak negeri ini memiliki jenis tekstur buah yang cukup padat, sehingga sangat baik untuk dikonsumsi. Ujarnya kepada Harian Detik (21/10/2016), “Saat pertama menanam Pepaya Calina sekitar tiga tahun lalu, Saya dianggap gila. Namun waktu membuktikan, kini ada sumber pendapatan baru di luar padi, tembakau dan jagung.”

Lambat laun, para petani lain tertarik membudidayakannya. Apalagi sejak adanya distributor yang siap menampung dan membantu penjualan Pepaya Calina dari kelompok tani yang diasuh oleh Pak Abdul. “Awal kali membentuk kelompok tani godong ijo sejahtera, kami hanya memiliki 32 orang anggota saja waktu itu. Tapi setelah melihat budidaya Pepaya Calina yang terus berkembang, banyak petani lain yang kepincut dan kemudian ikut bergabung, sehingga anggota kami kini sudah mencapai sekitar 112 orang yang tersebar di delapan desa yang ada di Kecamatan Sambeng,” Jelasnya, Harian kompas (21/10/2016).

Tambah Pak Abdul, “Berbeda dengan menanam padi, tembakau, dan jagung. Dengan menanam Pepaya Calina, membuat petani memiliki pemasukan setiap minggunya. Karena Pepaya ini, bisa dipanen dua kali dalam seminggu.” Mitra petani bernama, Negeri Hijau melalui CEO nya, Pak Imam Ma’arif mengatakan bila saat ini telah terdapat 15 hektar areal tanam pepaya Calina di daerah Kecamatan Sambeng dan juga, daerah tersebut dinyatakan sebagai produsen terbesar ketiga di Jawa Timur.

Untuk 100 pohon, penghasilannya berapa ??

Rata-rata petani yang menanam antar 100 pohon, minimal dalam 1 kali petiknya mendapatkan omzet Rp. 250 ribu. Jadi, kalau seminggu bisa 2 kali, sehingga petani akan mendapatkan hingga Rp. 500 ribu dalam seminggunya. Di lahan seluas 1 hektar misalnya, para petani bisa memanen sebanyak 100 ton per bulan.

Harga jual Pepaya Calina di pasaran cenderung relatif stabil. Tergantung dari ukuran dan kualitas buah, Pepaya Calina memiliki 3 jenis harga berdasarkan kualitas, yaitu KW1, KW2, dan KW3. KW1 berkisar Rp. 3.000 per kilo, KW2 Rp. 2.000, KW3 Rp.1.200. Petani yang memiliki 1 hektar kebun pepaya bisa meraup penghasilan 20 hingga 30 juta rupiah per bulan. Rata-rata buah pepaya ini dipasarkan di toko buah tradisional dan modern di sebagian besar kota di pulau Jawa.

Pedoman Budidaya Pepaya Calina.

Negeri Hijau Indonesia adalah yang terbaik di daerah Tuban untuk mengembangkan ekonomi rakyat, serta membudidayakan Pepaya Calina / IP-9 secara masal dengan kapasitas hari ini mencapai 40.000 bibit per bulan dan kebun lebih dari 30 Ha. Cukup banyak mitra dari kota terdekat yang bersedia untuk bekerja sama, yakni Lamongan, Nganjuk, Bojonegoro, Pati, dsb.

  1. Sebelum ditanam, lahan harus dibersihkan dari gulma dan rumput.
  2. Buat lubang pada tanah dengan ukuran kedalaman 50 cm x 50 x 40.
  3. Jarak masing-masing lubang bisa juga 2,5 x 2,75 m atau 2,5 m x 2,5 m.
  4. Lubang tanam yang telah dipersiapkan dibiarkan kosong dengan minimal waktu selama 15 hari, kemudian ditutup oleh tanah yang sudah dicapur dengan pupuk kompos atau kandang. Gunakan pupuk kompos atau kandang untuk harga murahnya, seperti kotoran kambing, kotoran ayam, kotoran sapi, dsb.
  5. Proses penanaman dilakukan dengan hati-hati, yakni memindahkan bibit yang telah disemaikan dari polybag menuju lubang tanam yang telah dipersiapkan.
  6. Bibit yang telah disemai selama 1,5 bulan adalah bibit yang telah siap ditanam.
  7. Proses penanaman harus dilakukan pada waktu sore hari. Lakukan perlahan sebab tanah pada polybag tidak boleh hancur. Jika tidak, bibit akan mati dan layu.
  8. Proses penyulaman harus dilakukan sesegera mungkin apabila ada bibit yang mati karena penyakit atau terserang hama.
  9. Anda harus memiliki stok sebanyak 25% bibit sulam dari jumlah total bibit yang ditaman.
  10. Sistem pengairan harus tepat. Pastinya tanaman pepaya menyukai air, tetapi tidak tahan jika air menggenang, sebab batangnya bisa cepat busuk.
Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text.